Rabu, 05 Juni 2013

Dan hanya karena dendam (Cerpen)



Hari ini hari pertamaku masuk SMA CAKRA, jadi aku gak boleh malas–malasan buat bangun pagi, gak boleh datang telat, harus yang rapi dan tidak lupa menyetrika seragam baruku selicin mungkin sampai semut ke pleset kalau mau nempel di bajuku. Asataga ada yang lupa aku belum memperkenalkan diriku, heeee maaf ya .Aku Teresha Maria Natalia biasa dipanggil Shasa sama keluarga dan sahabatku,aku anak ke-2 dari dua bersaudara anak dari ayah dan bundaku.Heheheehe… ya iyalah mang aku mau anak dari mana lagi..
“Sayang cepet turun,Willy udah di meja makan ini.” Hem bunda ini gak tau apa kalo anaknya lagi dandan.
“Iya bunda,Shasa bentar lagi turun.”teriakku dari kamar.Aku melihat kembali barang-barang yang aku bawa untuk memastikan gak ada yang terlupa.
“Cie yang pake seragam baru… Ntar kalo di sekolah jangan macem-macem lo.”Dasar kakak durhaka,mang dia kira aku ini tukang bikin masalah apa? Aku mengambil sepotong roti yang sudah diolesi selai oleh bunda.
“Bunda aku berangkat ya,doain aku cepet dapet temen baru di sini.”kataku dengan memelas kepada bunda.
“Iya,bunda doain. Kamu baek-baek ya,kalo ada apa-apa Shasa cari Willy ya.”Bunda mengelus rambutku.
“Makasi bunda.” aku mengecup pipi bunda dan berpamitan.
“Bunda Willy berangkat dulunya.” kakakku mencium pipi dan tangan bunda.
“Jaga adek kamu,dia kan baru di kota ini jadi kamu harus bantu dia.” kata bunda samar–samar ketika aku mengambil helm. Ayah berangkat duluan jadi aku gak bisa berangkat bareng ayah.
“Beres bunda.”kak Willy berpamitan.
            Aku dan kak Willy sampai di sekolah 10 menit sebelum bel,kak Willy mengantarku ke ruang kepala sekolah. Ketika seorang laki – laki yang rambutnya memutih masuk dan menghampiri kami,aku yakin bahwa beliau adalah kepala sekolah. Kak Willy memperkenalkan aku dan menjelaskan bahwa aku adalah adiknya,beliau kemudian tersenyum ramah kepadaku. Bel sudah berbunyi dan Pak Rudy kepala sekolahku ini mengantarku ke kelas baruku. Tok tok tok… pak Rudy mengetuk pintu yang bertuliskan XI IPA I,murid-murid dan guru yang sedang melakukan kegiatan belajar mengajar langsung berhenti dan mempersilahkan pak Rudy untuk masuk. Pak Rudy juga mengajakku masuk,kemudian beliau menjelaskan bahwa aku ini adalah murid baru pindahan dari Semarang.Aku memperkenalkan diri se-enjoy mungkin agar tak keliatan kalau aku lagi gerogi hehehehe………………
“Pagi ……..” Sapaku ragu – ragu kepada teman – teman baruku.
“Pagi……” Balas mereka. Hu kenapa semua menatapku??????????
“Nama saya Teresha Maria Natalia,kalian bisa panggil aku Resha atau Shasa. Aku pindahan dari SMA Tunas Bangsa Semarang.”kenapa semua diem????????????? Aaaaargh aku harus santai.”Sabar Shasa pasti kamu bisa mengakhiri ini semua.” Kataku dalam hati.
“Rumahnya di mana?”Tanya seorang gadis yang duduk di deretan kanan.
“Rumahku di Jl. Mawar no 15.”Aku memberi senyuman kepada gadis itu. Beberapa siswa laki – laki yang duduk di deretan belakang berbisik–bisik membuat perhatianku teralih pada mereka.
“Waaaaa kamu pacarnya kak Willy ya? Kok alamatnya sama.”Aaa sialan ni cowok tanya kok gak penting,bikin aku makin lama berdiri di depan kelas aja.
“Maaf,aku bukan pacarnya tapi aku adeknya Willy.”Jawabku sesingkat mungkin yang langsung diberi anggukan oleh semua penghuni kelas.
“Baik Resha kamu bisa duduk di bangku ke dua baris kiri.”Jelas guru disebelahku.
“Baik bu.”Aku tersenyum kepada guru disebelahku.
            Aku duduk disebelah gadis berkaca mata berambut sebahu,”kalau kaca matanya tak setebal itu pasti dia cantik.”pikirku dalam hati. Bu Marta kembali menerangkan tentang statistika ketika aku sudah duduk,gadis di sebelahku tersenyum dan memperkenalkan dirinya. Aku juga tersenyum kepadanya, ternyata gadis ini bernama Tamara. Selama pelajaran berlangsung banyak murid yang sibuk melakukan pekerjaan mereka masing–masing tanpa mempedulikan penjelasan dari bu Marta. Hanya beberapa saja yang mau mendengarkan pelajaran, ternyata suasana kelas di sini tidak jauh beda dengan kelasku yang dulu. Sepertinya aku akan bisa beradaptasi dengan cepat, dan semoga saja aku bisa mendapatkan teman–teman baru yang cukup baik dan care.
            Huuuuuuu……………. Sepertinya aku hari ini masuk di hari yang tepat,soalnya guru–guru SMA CAKRA sedang ada rapat dengan dewan guru sehingga 6 jam pelajaran akan kosong. Semua murid sibuk dengan rencananya masing–masing untuk mengisi jam kosong sedangkan aku hanya duduk diam di bangkuku dengan membaca komik yang tak sengaja aku bawa. ”Permisi……” kata seseorang di pintu kelas aku seperti mengenali suara itu tapi aku diam saja tak menoleh dari komikku karena masih banyak murid lain yang bisa menemui pemilik suara tersebut.
“Sha ada yang cari kamu.”Kata seorang gadis yang belum aku kenal,aku segera melihat ke arah pintu untuk melihat siapa yang mencariku. Huuu ternyata kak Willy yang ada di ambang pintu,aku menghampirinya dan memasukkan komikku kedalam tas tak lupa aku berterima kasih kepada gadis bernama Gita yang tadi memberitahuku.
“Ada apa kak?”tanyaku kepada kak Willy yang sedang berbicara dengan teman-temannya. Waaaa ternyata teman kakakku lumayan juga.hehehehehe
“Kamu gak ada tugas dari gurukan Sha?”Tanya kak Willy.
“Gak ada kak,mang kenapa?”
“Oh. Lo geto kamu ikut kakak aja sambil liat-liat sekolah. Mau gak?”
“Mang gak papa ya kak?”Tanyaku ragu-ragu.
“Ala tenang aja,aku tadi dah ijin ma pak Rudy kok.”
“Oh ya dah,aku ikut dari pada di kelas gak ngapa–ngapain.”
“O ya Sha kenalin ini Dewa sahabatku.”
“Shasa.”Aku menjabat tangan kak Dewa yang terulur,dia tersenyum manis sekali. Waaa aku kok jadi gerogi gini ya. Hehehehe
            Kami bertiga langsung meninggalkan kelasku dan berjalan melewati ruang guru. Kak Willy dan kak Dewa mengajakku dan mengenalkanku jalan–jalan yang menuju ke perpus,kamar mandi,Lab komputer dan Lab – lab lainnya. Kami mengakhiri perjalanan dengan menuju kantin dan di kantin ternyata sudah ramai dengan para siswa. Kak Willy mengajakku ke kantin bagian ujung kanan yang sepertinya sudah menjadi tempat kakakku dan teman–temannya karena di sana juga sudah ada beberapa anak lainnya. Ada sekitar lima siswa laki–laki yang duduk di meja ini, Kak Willy mengenalkanku kepada mereka yang ternyata bernama Dimas, Rendy, Rizky, Luky, dan Cokhi mereka ramah, konyol dan sangat baik. Mereka mengajakku ngobrol dan bercanda sampai datang juga cewek yang sepertinya salah satunya aku kenal. Ya itu bener salah satu dari mereka adalah kak Rara pacar kakakku, kak Rara tersenyum ramah dan memelukku seperti yang biasa dia lakukan ketika datang ke Semarang. Kak Rara gadis yang cantik, baik, ramah dan tidak sombong meski dia dari keluarga kaya teman–teman kak Rara ternyata juga baik dan care, aku jadi terharu.Hwahwahwahwa.
“Kak aku kekamar mandi dulu ya….”Kataku pada kak Willy yang lagi asyik ngobrol dengan sahabat dan pacarnya.
“Kamu branikan sendirian?”
“Iya kakak,aku bukan anak TK lagi.”
“Ya dah ati – ati. ntar kembali lagi ya.”
“Iya.”Aku berpamitan dan tersenyum pada semua orang yang duduk di meja itu. Aku berjalan keluar kantin dan berusaha mengingat–ingat di mana letak kamar mandi kalau dari arah kantin. O-mi-guuud…… jauh amat ya. apa jangan–jangan aku kesasar? wah gawat ini. Setelah aku muter–muter akhirnya ketemu juga,huu leganya. Ketika aku keluar dari kamar mandi gak sengaja aku nabrak seseorang,aku langsung jatuh terduduk. Haduch sialan ni orang jalan seenaknya sendiri.
“Kalo jalan pelan – pelan dong.”Kataku sambil berdiri dan ngerapiin bajuku.
“Wo wow o,da yang brani ngomel – ngomel. Enaknya di apain ni bos?”Haduch sapa ni orang,kok di panggil bos si. Wajahnya si cakep tapi kok tatapan matanya dingin. Cowok yang tadi bicara mengitariku dengan senyum yang iuuuyyy keliatan mupeng. hweee mupeng? dapet dari mana tu kata. aa biarin lah gak peduli.
“Maaf aku mau lewat.”Kataku kepada cowok yang mengitariku,empat cowok lainnya hanya tersenyum melihat tingkah temannya sedangkan cowok dingin itu hanya diam saja. Haduch…… ponsel ku getar lagi.
“Hallo,iya kak bentar lagi.”Haduch kenapa kak Willy telefon di saat tak tepat gini.
“I iiya kak,kak Willy gak sah khawatir. Aku gak tersesat kok.”Aku menutup ponselku dan cepat – cepat memasukkan ke saku.
“Oooo jadi kamu adeknya Willy to. Lumayan bos ada mangsa.”Haduch ni cowok dari tadi ngomong terus aku jadi gak ngerti apa maksudnya.
“Gimana Wil?”Tanya Rara.
“Katanya ntar lagi balik,tapi kok perasaanku gak enaknya.”
“Wil kenapa gak kamu susul aja.”Kata Rara dengan nada kawathir.
“Biar aku ama Putri aja yang cari.”Kata Mega menawarkan diri.
“Oke makasi ya.”Kata Willy.
            Apa sich maunya ni orang,aku mau jalan kok di halangi. Sialan belum tau ya kalau aku lagi marah,pasti kak Willy khawatir ini.
“Permisi kak,aku harus kembali. Maaf tadi dah marahin kakak.”Kataku akhirnya. Looo gimana si kok aku malah di tarik,mau di bawa kemana ni.
“Lepasin… kak tolong lepasin,aku mau di bawa kemana?”tanyaku dengan kawathir. Haduch tanganku sakit ditarik kayah gini. Aku terus berontak tapi cowok dingin ini semakin  keras narik aku,rasanya air mata ini ingin menetes. Aku di bawa ke tempat apa ini, tapi sepertinya di belakang sekolah.
“Apa bener lo adeknya Willy?”Tanya cowok dingin itu dengan nada sinis.
“Ii I “Belum selesai jawab tapi dia da mbentak aku.
“JAWAB!!”
“Iya”Aku mulai terisak.
            Mega dan putri mengetahui ketika Shasa ditarik gerombolan Putra N’genk,mereka langsung lari kekantin secepat mungkin buat beri tau Willy. Sampai di kantin mereka langsung menuju meja teman – temennya sambil mengatur nafas mereka.
“Lo mana Shasa?”Tanya Willy sambil berdiri.
“Anu…”Mega masih mengatur nafasnya. Melihat keadaan teman–temannya Rara menyadari kalau ada gak yang beres. Rara semakin khawatir karena gak ada Shasa disamping mereka.
“Di mana Shasa?”Bentak Rara yang langsung menarik perhatian penghuni kantin lainnya. Mega dan Putri langsung pucat ketika dibentak Rara,mereka sadar kalau Rara khawatir dengan adek kesayangannya itu. Karna situasi sudah memanas Putri langsung cerita apa yang tadi mereka liat.
“Apa? Putra brani sentuh adek gue?”Willy langsung emosi mendengar nama Putra. Wajar kalau Willy langsung emosi karena mereka musuhan mulai dari SMP. Rara langsung terduduk ketika Putri mendengar nama Putra,Mega langsung memegang pundaknya buat nenangin.
“Di bawa kemana adek gue?”
“Tadi sih arahnya ke gudang. Mungkin mereka ke belakang sekolah.”
Mendengar jawaban dari Mega Willy langsung lari di ikuti oleh pengikutnya. Rara juga langsung menyusul setelah ia tersadar dari kekhawatirannya,dia berlari dengan pipi basah.
“Bos enaknya dia kita apain nich? Adeknya lumayan bos,gimana kalo buat gue aja.”
“Diem lo Tom,ntar lo ada jatah sendiri.”Mendengar perkataannya bulu kuduku langsung berdiri. Apa yang sebenernya dia mau,aku gak tau apa–apa.
“Mau kakak apa?”Tanyaku. Dia tak menjawab tapi malah tersenyum sinis.
“Gue mau…”Dia tidak meneruskan jawabannya tapi mala berjalan mendekatiku,aku terus mundur dan mundur.Duk.. gawat aku terpojok gak ada jalan lagi,dia mau apa.
“Bos Willy dateng.”Kata cowok berambut ikal.
“Cepet juga tu cowok”katanya sinis.
“Bos dia gak sendiri.”Kata Tomy.
“Jony lo bawa ni cewek ke tempat gue sekarang.”
“Beres Put.”
            Aku di tarik cowok yang namanya Jony,tapi dia tak sekasar cowok dingin tadi. Jadi dari pada aku kena bentak aku nurut aja,dia membawaku ke parkiran dan masuklah aku ke dalam mobil jazz hitam dengan tangan di tali.
“Kita mau kemana kak?”Tanyaku masih terisak.
“Ikut aja,jangan banyak komentar lo mau slamet dari Putra.”Katanya sambil menyalakan mesin dan kami meninggalkan sekolak. Ooo jadi cowok dingin tadi namanya Putra.
            Willy sampek di belakang sekolah bersama teman-temannya tapi di sana gak ada siapa–siapa,yang tersisa hanya kertas yang ditempel di pohon deket pintu belakang. Dewa mengambil kertas itu dan membacanya,Willy menyadari perubahan wajah Dewa ketika membaca kertas itu kemudian Willy langsung mengambil kertas itu dan membacanya.
            Adek lo gue bawa dulu.
            Gue ada perlu ama adek lo bentar.
            Dia aman ama gue.
            Tapi lo dia buat masalah ma gue gak tau dech dia di apain ama anak – anak.
“Brengsek… mau dia apain adek gue.” Maki Willy.
“Willy di mana Shasa?”Tanya Rara.
Melihat surat yang di pegang Willy dia membacanya,membaca surat itu Rara langsung lemas tak sanggup menopang badannya lagi dan dia pingsan. Willy membawanya ke UKS dan menemaninya sampai sadar. Sedangkan Wlliy menemani Rara,DewaN’genk dan Mega serta Putri gak diem aja tapi mereka langsung menyusun rencana dan memikirkan kemungkinan–kemungkinan di mana tempat Shasa sekarang. Rara sadar dari pingsannya,dia langsung memeluk Willy dan menangis sesenggukan dia merasa bersalah karena tadi dia tidak mengantar Shasa untuk ke kamar mandi, Willy mencoba untuk menenangkan Rara. Bel pulang sekolah berbunyi. Willy langsung menuju base came dan berkumpul dengan anak – anak lainnya. Ketika sedang memesan minuman lagu My December mengalun dari ponsel Willy dia menangkatnya.Ketika menerima telefon dia hanya menjawab “Iya” dan “Tidak”.
“Dari siapa?”Tanya Dewa.
“Bunda gue telfon.”
“Trus bunda lo bilang apa lagi?”Tanya Mega.
“Nenek gue sakit jadi Ayah ama Bunda ke Semarang sekarang.”
“Bagus,jadi kita gak bisa lebih mudah buat nyari Shasa.”Semua mengangguk menyetujui Dewa.
            Aku di mana sih ini,kok aku gak tau daerah ini ya??? Haduch hari pertamaku sekolah berantakan gara–gara cowok dingin itu. Kira–kira ini di rumah siapa ya? trus ngapain aku di bawa kesini? waaa apa jangan–jangan aku di culik? Hadu kan kasian bunda. Ponsel aku di ambil Jony lagi. Aduch….. perutku sakit jangan – jangan maagku kambuh ini. Aduch… Tuhan aku di mana sih Kak Wlly di mana? Aduch sakit. Aku sedikit membungkukkan badanku untuk menahan sakit. Tapi…. Braaak…
“Jony di mana dia?”Tanya Putra.
“Di kamar tengah. Lo ke sana bawain makan sekalian soalnya tadi kanyaknya dia belum makan.”
“Oke.”
Pyaaaar….
Mendengar ada benda yang pecah Jony segera berlari dan membuka pintu. Dia melihat pecahan piring dan Putra sedang menggendong cewek itu.
“Jony lo apain ni cewek ampe pingsan kaya gini?”
“Gak gue apa–apain,beneran.”
“Lo ambil obat di dapur,Gue bawa dia ke kamar gue.”
“Iya.”
            Putra meletakkan gadis itu dengan hati–hati di tempat tidurnya,lalu membuka sepatu dan kaos kakinya dan menyelimuti gadis itu.Tanpa sadar dia memperhatikan gadis ini dengan seksama,dalam hati dia berkata”Willy adek lo begitu manis dan cantik tapi kenapa lo se-brengsek itu. kenapa lo sakiti adek gue? Gue pengen hancurin elo tapi gue gak tega hancurin elo lewat adek lo.”
“Ini Put.”Jony masuk membawa obat,minyak kayu putih dan air minum.
“Dia demam Jon.”karena sudah malam Jony memilih untuk pulang,sedangkan Putra masih sibuk ngerawat gadis kecil tak bersalah ini karena  ulahnya.

            Willy menginap di rumah Dewa karena dia gak bisa tenang menunggu kabar yang sedari tadi ia tunggu dari Shasa. Dia terus gelisah sampai tak nafsu untuk makan padahal Rara sudah membujuknya. Keesokan paginya. Di sekolah Willy dan temannya datang ke kelas Shasa tapi dia tidak melihatnya dan dia juga kekelas Putra tapi dia juga tak melihatnya yang mereka temukan hanya para pengikut–pengikut Putra. Willy menemui mereka dan Jony langsung menelefon Putra untuk memberitahukan keadaan yang sedang terjadi.
“Ma, kata Putra lo di suruh nganter ke rumahnya,pulang sekolah nanti.”Kata Jony.
“Dia apain adek gue?”Willy geram.
“Dah baek – baek aja jangan khawatir.”
“Awas lo adek gue kenapa–napa.”
            Willy dan temannya meninggalkan kelas itu,di kelas dia tidak bisa konsentrasi yang dia pikirkan hanya keadaan Shasa. Ketika bel pulang Jony,Tomy dan Ganar sudah menunggu di parkiran dan mereka langsung menuju rumah Putra. Tanpa mereka sadari DewaN’genk dan RaraN’genk mengikuti mereka. Sampai di rumah putra Willy langsung di ajak ke kamar Putra,di dalam kamar Putra yang dia temukan adalah Putra sedang menyuapi Shasa yang terbaring lemah di tempat tidur. Willy masuk kedalam dengan was–was,setelah mendekat ke tempat tidur dia langsung memeluk Shasa. Belum lama Willy memeluk benda keras telah menghantamnya dari belakang,menyadari itu Shasa langsung teriak dan menangis histeris. Mendengar teriakan dari dalam Dewa dan teman–temanya langsung masuk dan mencari asal suara.
“Jangan kak,jangan pukul kakakku.”Kata Shasa histeris. Dengan tubuh yang masih lemah dia turun dari tempat tidur menghampiri kakaknya yang sedang di pukul bertubi –tubi. Dan yang terjadi sebuah pisau yang di pegang Dewa mendarat di perut Shasa. Menyadari itu Putra langsung pucat dan temannya seketika melepaskan pegangan tangannya dari Willy.
“Shasaaaaaaaaaaaaa.” Teriak Rara Histeris begitui melihat pisau yang ada di perut Shasa.
Dewa langsung mengambil kain dan mencabut pisau yang ada di perut Shasa. Willy yang terjatuh pingsan karena dipukuli dibopong Rendy,Liky dan Dimas,sedangkan Dewa menggendong Shasa ke mobil dengan cepat karena dia mengeluarkan banyak darah.Rara menatap tajam kearah Putra dan teman – temannya yang terduduk pucat di lantai menerima makian dari Rara. Mereka langsung membawa Shasa dan Willy ke rumah sakit,sedangkan Rara sibuk menghubungi Bunda dan Ayah Willy. Sampainya di rumah sakit Shasa dan Willy langsung di tanganin oleh dokter. Sedangkan mereka menunggu di depan UGD dengan perasaan kacau.Ayah dan Bunda Willy Sudah datang,Rara menjelaskan masalah yang sebenarnya terjadi dan Ayah Willy langsung menghubungi kerabatnya untuk menangkap Putra dan teman – temannya.
Dokter keluar dan mengatakan bahwa Shasa mengeluarkan banyak darah dan harus segera di operasi sedangkan Willy hanya gegar otak ringan yang akan segera pulih. Operasi berjalan selama dua jam dan Shasa sudah di pindahkan ke kamar rawat yang satu ruangan dengan Willy. Willy sudah sadar dan sudah mulai pulih,tetapi Shasa masi koma selama hampir dua hari. Setelah hari ke tiga Shasa siuman tapi hanya beberapa saat dan kemudian suara tangis terdengar dari kamar 201. Ya Shasa telah pergi untuk selama –lamanya karena ada pendarahan di kepalanya akibat benturan yang ia alami setelah di tusuk.
Hari itu Willy hanya mengurung diri di kamar dan dia juga tak mau menemui ataupun di temui siapapun. Di saat pemakaman Rara sempat pingsan beberapa kali yang ia selingi dengan tangis histeris. Dewa,Maya dan teman – teman yang lainnya juga datang,Sahabat Shasa yang di semarang juga datang untuk melihat Shasa yang terakhirkalinya. Sedangkan Putra dan dua temannya ada di balik jeruji besi untuk menunggu hasil pengadilan dan mereka juga di DO dari SMA CAKRA. Willymenjadi sedikit pendiam setelah peerginya Shasa dan Rara terkadang masih sering terisak karena teringat Shasa.

                                                                                                Lintang Citra


Tidak ada komentar:

Posting Komentar