Hari ini hari pertamaku masuk
SMA CAKRA, jadi aku gak boleh malas–malasan buat bangun pagi, gak boleh datang
telat, harus yang rapi dan tidak lupa menyetrika seragam baruku selicin mungkin
sampai semut ke pleset kalau mau nempel di bajuku. Asataga ada yang lupa aku
belum memperkenalkan diriku, heeee maaf ya .Aku Teresha Maria Natalia biasa
dipanggil Shasa sama keluarga dan sahabatku,aku anak ke-2 dari dua bersaudara
anak dari ayah dan bundaku.Heheheehe… ya iyalah mang aku mau anak dari mana
lagi..
“Sayang
cepet turun,Willy udah di meja makan ini.” Hem bunda ini gak tau apa kalo
anaknya lagi dandan.
“Iya
bunda,Shasa bentar lagi turun.”teriakku dari kamar.Aku melihat kembali
barang-barang yang aku bawa untuk memastikan gak ada yang terlupa.
“Cie yang pake seragam baru…
Ntar kalo di sekolah jangan macem-macem lo.”Dasar kakak durhaka,mang dia kira aku
ini tukang bikin masalah apa? Aku mengambil sepotong roti yang sudah diolesi
selai oleh bunda.
“Bunda aku berangkat ya,doain
aku cepet dapet temen baru di sini.”kataku dengan memelas kepada bunda.
“Iya,bunda doain. Kamu
baek-baek ya,kalo ada apa-apa Shasa cari Willy ya.”Bunda mengelus rambutku.
“Makasi bunda.” aku mengecup
pipi bunda dan berpamitan.
“Bunda Willy berangkat
dulunya.” kakakku mencium pipi dan tangan bunda.
“Jaga adek kamu,dia kan baru
di kota ini jadi kamu harus bantu dia.” kata bunda samar–samar ketika aku
mengambil helm. Ayah berangkat duluan jadi aku gak bisa berangkat bareng ayah.
“Beres bunda.”kak Willy
berpamitan.
Aku dan kak Willy sampai di sekolah 10 menit sebelum
bel,kak Willy mengantarku ke ruang kepala sekolah. Ketika seorang laki – laki
yang rambutnya memutih masuk dan menghampiri kami,aku yakin bahwa beliau adalah
kepala sekolah. Kak Willy memperkenalkan aku dan menjelaskan bahwa aku adalah
adiknya,beliau kemudian tersenyum ramah kepadaku. Bel sudah berbunyi dan Pak
Rudy kepala sekolahku ini mengantarku ke kelas baruku. Tok tok tok… pak Rudy
mengetuk pintu yang bertuliskan XI IPA I,murid-murid dan guru yang sedang melakukan
kegiatan belajar mengajar langsung berhenti dan mempersilahkan pak Rudy untuk
masuk. Pak Rudy juga mengajakku masuk,kemudian beliau menjelaskan bahwa aku ini
adalah murid baru pindahan dari Semarang.Aku memperkenalkan diri se-enjoy mungkin agar tak keliatan kalau
aku lagi gerogi hehehehe………………
“Pagi ……..” Sapaku ragu –
ragu kepada teman – teman baruku.
“Pagi……” Balas mereka. Hu
kenapa semua menatapku??????????
“Nama saya Teresha Maria
Natalia,kalian bisa panggil aku Resha atau Shasa. Aku pindahan dari SMA Tunas
Bangsa Semarang.”kenapa semua diem????????????? Aaaaargh aku harus
santai.”Sabar Shasa pasti kamu bisa mengakhiri ini semua.” Kataku
dalam hati.
“Rumahnya di mana?”Tanya
seorang gadis yang duduk di deretan kanan.
“Rumahku di Jl. Mawar no
15.”Aku memberi senyuman kepada gadis itu. Beberapa siswa laki – laki yang duduk
di deretan belakang berbisik–bisik membuat perhatianku teralih pada mereka.
“Waaaaa kamu pacarnya kak
Willy ya? Kok alamatnya sama.”Aaa sialan ni cowok tanya kok gak penting,bikin aku
makin lama berdiri di depan kelas aja.
“Maaf,aku bukan pacarnya tapi
aku adeknya Willy.”Jawabku sesingkat mungkin yang langsung diberi anggukan oleh
semua penghuni kelas.
“Baik Resha kamu bisa duduk
di bangku ke dua baris kiri.”Jelas guru disebelahku.
“Baik bu.”Aku tersenyum
kepada guru disebelahku.
Aku duduk disebelah gadis berkaca mata berambut
sebahu,”kalau kaca matanya tak setebal itu pasti dia cantik.”pikirku dalam
hati. Bu Marta kembali menerangkan tentang statistika ketika aku sudah
duduk,gadis di sebelahku tersenyum dan memperkenalkan dirinya. Aku juga
tersenyum kepadanya, ternyata gadis ini bernama Tamara. Selama pelajaran
berlangsung banyak murid yang sibuk melakukan pekerjaan mereka masing–masing
tanpa mempedulikan penjelasan dari bu Marta. Hanya beberapa saja yang mau
mendengarkan pelajaran, ternyata suasana kelas di sini tidak jauh beda dengan
kelasku yang dulu. Sepertinya aku akan bisa beradaptasi dengan cepat, dan
semoga saja aku bisa mendapatkan teman–teman baru yang cukup baik dan care.
Huuuuuuu……………. Sepertinya aku hari ini masuk di hari yang
tepat,soalnya guru–guru SMA CAKRA sedang ada rapat dengan dewan guru sehingga 6
jam pelajaran akan kosong. Semua murid sibuk dengan rencananya masing–masing
untuk mengisi jam kosong sedangkan aku hanya duduk diam di bangkuku dengan
membaca komik yang tak sengaja aku bawa. ”Permisi……” kata seseorang di pintu
kelas aku seperti mengenali suara itu tapi aku diam saja tak menoleh dari komikku
karena masih banyak murid lain yang bisa menemui pemilik suara tersebut.
“Sha ada yang cari kamu.”Kata
seorang gadis yang belum aku kenal,aku segera melihat ke arah pintu untuk
melihat siapa yang mencariku. Huuu ternyata kak Willy yang ada di ambang
pintu,aku menghampirinya dan memasukkan komikku kedalam tas tak lupa aku
berterima kasih kepada gadis bernama Gita yang tadi memberitahuku.
“Ada apa kak?”tanyaku kepada
kak Willy yang sedang berbicara dengan teman-temannya. Waaaa ternyata teman kakakku
lumayan juga.hehehehehe
“Kamu
gak ada tugas dari gurukan Sha?”Tanya kak Willy.
“Gak
ada kak,mang kenapa?”
“Oh. Lo geto kamu ikut kakak
aja sambil liat-liat sekolah. Mau gak?”
“Mang gak papa ya
kak?”Tanyaku ragu-ragu.
“Ala tenang aja,aku tadi dah
ijin ma pak Rudy kok.”
“Oh ya dah,aku ikut dari pada
di kelas gak ngapa–ngapain.”
“O ya Sha kenalin ini Dewa sahabatku.”
“Shasa.”Aku menjabat tangan
kak Dewa yang terulur,dia tersenyum manis sekali. Waaa aku kok jadi gerogi gini
ya. Hehehehe
Kami bertiga langsung meninggalkan kelasku dan berjalan
melewati ruang guru. Kak Willy dan kak Dewa mengajakku dan mengenalkanku jalan–jalan
yang menuju ke perpus,kamar mandi,Lab komputer dan Lab – lab lainnya. Kami
mengakhiri perjalanan dengan menuju kantin dan di kantin ternyata sudah ramai
dengan para siswa. Kak Willy mengajakku ke kantin bagian ujung kanan yang
sepertinya sudah menjadi tempat kakakku dan teman–temannya karena di sana juga
sudah ada beberapa anak lainnya. Ada sekitar lima siswa laki–laki yang duduk di
meja ini, Kak Willy mengenalkanku kepada mereka yang ternyata bernama Dimas, Rendy,
Rizky, Luky, dan Cokhi mereka ramah, konyol dan sangat baik. Mereka mengajakku
ngobrol dan bercanda sampai datang juga cewek yang sepertinya salah satunya aku
kenal. Ya itu bener salah satu dari mereka adalah kak Rara pacar kakakku, kak
Rara tersenyum ramah dan memelukku seperti yang biasa dia lakukan ketika datang
ke Semarang. Kak Rara gadis yang cantik, baik, ramah dan tidak sombong meski
dia dari keluarga kaya teman–teman kak Rara ternyata juga baik dan care, aku jadi terharu.Hwahwahwahwa.
“Kak aku kekamar mandi dulu
ya….”Kataku pada kak Willy yang lagi asyik ngobrol dengan sahabat dan pacarnya.
“Kamu branikan sendirian?”
“Iya kakak,aku bukan anak TK
lagi.”
“Ya dah ati – ati. ntar
kembali lagi ya.”
“Iya.”Aku berpamitan dan
tersenyum pada semua orang yang duduk di meja itu. Aku berjalan keluar kantin
dan berusaha mengingat–ingat di mana letak kamar mandi kalau dari arah kantin. O-mi-guuud……
jauh amat ya. apa jangan–jangan aku kesasar? wah gawat ini. Setelah aku muter–muter
akhirnya ketemu juga,huu leganya. Ketika aku keluar dari kamar mandi gak
sengaja aku nabrak seseorang,aku langsung jatuh terduduk. Haduch sialan ni
orang jalan seenaknya sendiri.
“Kalo jalan pelan – pelan
dong.”Kataku sambil berdiri dan ngerapiin bajuku.
“Wo wow o,da yang brani
ngomel – ngomel. Enaknya di apain ni bos?”Haduch sapa ni orang,kok di panggil
bos si. Wajahnya si cakep tapi kok tatapan matanya dingin. Cowok yang tadi
bicara mengitariku dengan senyum yang iuuuyyy keliatan mupeng. hweee mupeng? dapet
dari mana tu kata. aa biarin lah gak peduli.
“Maaf aku mau lewat.”Kataku
kepada cowok yang mengitariku,empat cowok lainnya hanya tersenyum melihat
tingkah temannya sedangkan cowok dingin itu hanya diam saja. Haduch…… ponsel ku getar lagi.
“Hallo,iya
kak bentar lagi.”Haduch kenapa kak Willy telefon di saat tak tepat gini.
“I
iiya kak,kak Willy gak sah khawatir. Aku gak tersesat kok.”Aku menutup ponselku
dan cepat – cepat memasukkan ke saku.
“Oooo
jadi kamu adeknya Willy to. Lumayan bos ada mangsa.”Haduch ni cowok dari tadi
ngomong terus aku jadi gak ngerti apa maksudnya.
“Gimana
Wil?”Tanya Rara.
“Katanya
ntar lagi balik,tapi kok perasaanku gak enaknya.”
“Wil
kenapa gak kamu susul aja.”Kata Rara dengan nada kawathir.
“Biar
aku ama Putri aja yang cari.”Kata Mega menawarkan diri.
“Oke makasi ya.”Kata Willy.
Apa sich maunya ni orang,aku mau jalan kok di halangi. Sialan
belum tau ya kalau aku lagi marah,pasti kak Willy khawatir ini.
“Permisi kak,aku harus
kembali. Maaf tadi dah marahin kakak.”Kataku akhirnya. Looo gimana si kok aku
malah di tarik,mau di bawa kemana ni.
“Lepasin… kak tolong
lepasin,aku mau di bawa kemana?”tanyaku dengan kawathir. Haduch tanganku sakit
ditarik kayah gini. Aku terus berontak tapi cowok dingin ini semakin keras narik aku,rasanya air mata ini ingin
menetes. Aku di bawa ke tempat apa ini, tapi sepertinya di belakang sekolah.
“Apa bener lo adeknya
Willy?”Tanya cowok dingin itu dengan nada sinis.
“Ii I “Belum selesai jawab
tapi dia da mbentak aku.
“JAWAB!!”
“Iya”Aku mulai terisak.
Mega dan putri mengetahui ketika Shasa ditarik gerombolan
Putra N’genk,mereka langsung lari kekantin secepat mungkin buat beri tau Willy.
Sampai di kantin mereka langsung menuju meja teman – temennya sambil mengatur
nafas mereka.
“Lo
mana Shasa?”Tanya Willy sambil berdiri.
“Anu…”Mega masih mengatur
nafasnya. Melihat keadaan teman–temannya Rara menyadari kalau ada gak yang
beres. Rara semakin khawatir karena gak ada Shasa disamping mereka.
“Di mana Shasa?”Bentak Rara
yang langsung menarik perhatian penghuni kantin lainnya. Mega dan Putri langsung
pucat ketika dibentak Rara,mereka sadar kalau Rara khawatir dengan adek
kesayangannya itu. Karna situasi sudah memanas Putri langsung cerita apa yang
tadi mereka liat.
“Apa? Putra brani sentuh adek
gue?”Willy langsung emosi mendengar nama Putra. Wajar kalau Willy langsung
emosi karena mereka musuhan mulai dari SMP. Rara langsung terduduk ketika Putri
mendengar nama Putra,Mega langsung memegang pundaknya buat nenangin.
“Di bawa kemana adek gue?”
“Tadi sih arahnya ke gudang. Mungkin
mereka ke belakang sekolah.”
Mendengar jawaban dari Mega
Willy langsung lari di ikuti oleh pengikutnya. Rara juga langsung menyusul
setelah ia tersadar dari kekhawatirannya,dia berlari dengan pipi basah.
“Bos enaknya dia kita apain
nich? Adeknya lumayan bos,gimana kalo buat gue aja.”
“Diem lo Tom,ntar lo ada
jatah sendiri.”Mendengar perkataannya bulu kuduku langsung berdiri. Apa yang
sebenernya dia mau,aku gak tau apa–apa.
“Mau kakak apa?”Tanyaku. Dia
tak menjawab tapi malah tersenyum sinis.
“Gue mau…”Dia tidak
meneruskan jawabannya tapi mala berjalan mendekatiku,aku terus mundur dan
mundur.Duk.. gawat aku terpojok gak ada jalan lagi,dia mau apa.
“Bos Willy dateng.”Kata cowok
berambut ikal.
“Cepet juga tu cowok”katanya
sinis.
“Bos dia gak sendiri.”Kata
Tomy.
“Jony lo bawa ni cewek ke
tempat gue sekarang.”
“Beres Put.”
Aku di tarik cowok yang namanya Jony,tapi dia tak sekasar
cowok dingin tadi. Jadi dari pada aku kena bentak aku nurut aja,dia membawaku
ke parkiran dan masuklah aku ke dalam mobil jazz hitam dengan tangan di tali.
“Kita mau kemana kak?”Tanyaku
masih terisak.
“Ikut aja,jangan banyak
komentar lo mau slamet dari Putra.”Katanya sambil menyalakan mesin dan kami
meninggalkan sekolak. Ooo jadi cowok dingin tadi namanya Putra.
Willy sampek di belakang sekolah bersama teman-temannya
tapi di sana gak ada siapa–siapa,yang tersisa hanya kertas yang ditempel di
pohon deket pintu belakang. Dewa mengambil kertas itu dan membacanya,Willy
menyadari perubahan wajah Dewa ketika membaca kertas itu kemudian Willy
langsung mengambil kertas itu dan membacanya.
Adek
lo gue bawa dulu.
Gue ada perlu ama adek lo bentar.
Dia aman ama gue.
Tapi lo dia buat masalah ma gue gak
tau dech dia di apain ama anak – anak.
“Brengsek… mau dia
apain adek gue.” Maki Willy.
“Willy
di mana Shasa?”Tanya Rara.
Melihat surat yang di pegang
Willy dia membacanya,membaca surat itu Rara langsung lemas tak sanggup menopang
badannya lagi dan dia pingsan. Willy membawanya ke UKS dan menemaninya sampai
sadar. Sedangkan Wlliy menemani Rara,DewaN’genk dan Mega serta Putri gak diem
aja tapi mereka langsung menyusun rencana dan memikirkan kemungkinan–kemungkinan
di mana tempat Shasa sekarang. Rara sadar dari pingsannya,dia langsung memeluk
Willy dan menangis sesenggukan dia merasa bersalah karena tadi dia tidak
mengantar Shasa untuk ke kamar mandi, Willy mencoba untuk menenangkan Rara. Bel
pulang sekolah berbunyi. Willy langsung menuju base came dan berkumpul dengan anak – anak lainnya. Ketika sedang
memesan minuman lagu My December mengalun dari ponsel Willy dia menangkatnya.Ketika
menerima telefon dia hanya menjawab “Iya” dan “Tidak”.
“Dari siapa?”Tanya Dewa.
“Bunda gue telfon.”
“Trus bunda lo bilang apa
lagi?”Tanya Mega.
“Nenek gue sakit jadi Ayah
ama Bunda ke Semarang sekarang.”
“Bagus,jadi kita gak bisa
lebih mudah buat nyari Shasa.”Semua mengangguk menyetujui Dewa.
Aku di mana sih ini,kok aku gak tau daerah ini ya??? Haduch
hari pertamaku sekolah berantakan gara–gara cowok dingin itu. Kira–kira ini di
rumah siapa ya? trus ngapain aku di bawa kesini? waaa apa jangan–jangan aku di
culik? Hadu kan kasian bunda. Ponsel aku di ambil Jony lagi. Aduch….. perutku
sakit jangan – jangan maagku kambuh ini. Aduch… Tuhan aku di mana sih Kak Wlly
di mana? Aduch sakit. Aku sedikit membungkukkan badanku untuk menahan sakit. Tapi….
Braaak…
“Jony di mana dia?”Tanya
Putra.
“Di kamar tengah. Lo ke sana
bawain makan sekalian soalnya tadi kanyaknya dia belum makan.”
“Oke.”
Pyaaaar….
Mendengar ada benda yang
pecah Jony segera berlari dan membuka pintu. Dia melihat pecahan piring dan Putra sedang
menggendong cewek itu.
“Jony
lo apain ni cewek ampe pingsan kaya gini?”
“Gak
gue apa–apain,beneran.”
“Lo
ambil obat di dapur,Gue bawa dia ke kamar gue.”
“Iya.”
Putra meletakkan gadis itu dengan
hati–hati di tempat tidurnya,lalu membuka sepatu dan kaos kakinya dan
menyelimuti gadis itu.Tanpa sadar dia memperhatikan gadis ini dengan
seksama,dalam hati dia berkata”Willy adek lo begitu manis dan cantik tapi
kenapa lo se-brengsek itu. kenapa lo sakiti adek gue? Gue pengen hancurin elo
tapi gue gak tega hancurin elo lewat adek lo.”
“Ini
Put.”Jony masuk membawa obat,minyak kayu putih dan air minum.
“Dia
demam Jon.”karena sudah malam Jony memilih untuk pulang,sedangkan Putra masih
sibuk ngerawat gadis kecil tak bersalah ini karena ulahnya.
Willy menginap di rumah Dewa karena
dia gak bisa tenang menunggu kabar yang sedari tadi ia tunggu dari Shasa. Dia
terus gelisah sampai tak nafsu untuk makan padahal Rara sudah membujuknya. Keesokan
paginya. Di sekolah Willy dan temannya datang ke kelas Shasa tapi dia tidak
melihatnya dan dia juga kekelas Putra tapi dia juga tak melihatnya yang mereka
temukan hanya para pengikut–pengikut Putra. Willy menemui mereka dan Jony
langsung menelefon Putra untuk memberitahukan keadaan yang sedang terjadi.
“Ma, kata Putra lo di suruh
nganter ke rumahnya,pulang sekolah nanti.”Kata Jony.
“Dia
apain adek gue?”Willy geram.
“Dah
baek – baek aja jangan khawatir.”
“Awas
lo adek gue kenapa–napa.”
Willy dan temannya meninggalkan
kelas itu,di kelas dia tidak bisa konsentrasi yang dia pikirkan hanya keadaan
Shasa. Ketika bel pulang Jony,Tomy dan Ganar sudah menunggu di parkiran dan
mereka langsung menuju rumah Putra. Tanpa mereka sadari DewaN’genk dan
RaraN’genk mengikuti mereka. Sampai di rumah putra Willy langsung di ajak ke
kamar Putra,di dalam kamar Putra yang dia temukan adalah Putra sedang menyuapi
Shasa yang terbaring lemah di tempat tidur. Willy masuk kedalam dengan was–was,setelah
mendekat ke tempat tidur dia langsung memeluk Shasa. Belum lama Willy memeluk
benda keras telah menghantamnya dari belakang,menyadari itu Shasa langsung
teriak dan menangis histeris. Mendengar teriakan dari dalam Dewa dan teman–temanya
langsung masuk dan mencari asal suara.
“Jangan kak,jangan pukul
kakakku.”Kata Shasa histeris. Dengan tubuh yang masih lemah dia turun dari
tempat tidur menghampiri kakaknya yang sedang di pukul bertubi –tubi. Dan yang
terjadi sebuah pisau yang di pegang Dewa mendarat di perut Shasa. Menyadari itu
Putra langsung pucat dan temannya seketika melepaskan pegangan tangannya dari
Willy.
“Shasaaaaaaaaaaaaa.”
Teriak Rara Histeris begitui melihat pisau yang ada di perut Shasa.
Dewa langsung mengambil kain
dan mencabut pisau yang ada di perut Shasa. Willy yang terjatuh pingsan karena
dipukuli dibopong Rendy,Liky dan Dimas,sedangkan Dewa menggendong Shasa ke
mobil dengan cepat karena dia mengeluarkan banyak darah.Rara menatap tajam
kearah Putra dan teman – temannya yang terduduk pucat di lantai menerima makian
dari Rara. Mereka langsung membawa Shasa dan Willy ke rumah sakit,sedangkan
Rara sibuk menghubungi Bunda dan Ayah Willy. Sampainya di rumah sakit Shasa dan
Willy langsung di tanganin oleh dokter. Sedangkan mereka menunggu di depan UGD
dengan perasaan kacau.Ayah dan Bunda Willy Sudah datang,Rara menjelaskan
masalah yang sebenarnya terjadi dan Ayah Willy langsung menghubungi kerabatnya
untuk menangkap Putra dan teman – temannya.
Dokter keluar dan mengatakan
bahwa Shasa mengeluarkan banyak darah dan harus segera di operasi sedangkan
Willy hanya gegar otak ringan yang akan segera pulih. Operasi berjalan selama
dua jam dan Shasa sudah di pindahkan ke kamar rawat yang satu ruangan dengan
Willy. Willy sudah sadar dan sudah mulai pulih,tetapi Shasa masi
koma selama hampir dua hari. Setelah hari ke tiga Shasa siuman tapi hanya
beberapa saat dan kemudian suara tangis terdengar dari kamar 201. Ya Shasa
telah pergi untuk selama –lamanya karena ada pendarahan di kepalanya akibat
benturan yang ia alami setelah di tusuk.
Hari itu
Willy hanya mengurung diri di kamar dan dia juga tak mau menemui ataupun di temui
siapapun. Di saat pemakaman Rara sempat pingsan beberapa kali yang ia selingi
dengan tangis histeris. Dewa,Maya dan teman – teman yang lainnya juga
datang,Sahabat Shasa yang di semarang juga datang untuk melihat Shasa yang
terakhirkalinya. Sedangkan Putra dan dua temannya ada di balik jeruji besi
untuk menunggu hasil pengadilan dan mereka juga di DO dari SMA CAKRA. Willymenjadi
sedikit pendiam setelah peerginya Shasa dan Rara terkadang masih sering terisak
karena teringat Shasa.
Lintang
Citra




